Pengumuman | Renungan

Renungan STT-JKI






MELEPAS RANTAI KEKECEWAAN

MELEPAS RANTAI KEKECEWAAN

Dr. Julianto Simanjuntak 

Catatan ini membantu kita memahami penyebab utama rasa kecewa, bagaimana mengelola dan memahami jalan masuk dari Firman Tuhan yang mengubah rasa kecewa menjadi doa dan rasa syukur

PENYEBAB & AKIBAT KECEWA

Kecewa adalah respons emosi yang normal dan ada pada setiap manusia. Umumnya perasaan itu timbul karena harapan tak sesuai dengan kenyataan.  Jika rasa kecewa direspons dan dikelola dengan tepat, perasaan itu dapat memperkuat otot emosi dan menumbuhkan pribadi menjadi lebih kuat dan berempati.

Tetapi jikalau tidak maka kekecewaan dapat merusak diri sendiri, relasi dengan orang di terdekat, dan individu yang kita menaruh rasa kecewa. Hubungan silaturahmi atau kedekatan menjadi hambar dan bahkan konflik. Emosi positif kita menjadi tersedot untuk mengatasi perasaan tsb dan bisa mengganggu emosi dan pikiran kita. Fokus kita kepada rasa kecewa tsb.

Sebagian emosi kecewa kita bagikan kepada orang sekitar, terutama keluarga dan sahabat dekat yang tidak selalu paham dengan apa yang kita rasakan. Emosi tsb bisa merusak relasi tanpa disadari. Yang paling berat adalah respek dan komunikasi dengan orang yang tadinya kita hormati, menjadi turun bahkan hilang sama sekali. Rasa sayang berubah menjadi hambar bahkan pahit. Itulah akibat jika perasaan kecewa dibiarkan, diabaikan, ditekan atau malah diumbar tanpa diselesaikan.

Penyebab rasa kecewa, umumnya perasaan tidak puas karena kurang kasih sayang atau diperlakukan tidak adil di masa kecil. Hal itu membuat tabung emosi bahagia kita defisit. Tidak heran ketika kita dekat dan mengagumi seseorang, kita begitu cepat bangga dengan orang tsb. Kita mengidolakannya. Tapi ketika tahu kelemahannya, dan kita dikecewakan maka kita begitu cepat menarik diri, bahkan berbalik menyerang orang tsb baik langsung atau tidak. Jika rasa kecewa tidak dikelola terutama pada figur otoritas seperti guru dan orangtua , akan membuat kita mudah kecewa di masa dewasa. Ini kita sebut sebagai faktor predisposisi. 

Sumbangan rasa kecewa bisa datang dari harapan-harapan kita yang dikecewakan baik oleh sahabat, pacar, pendeta, Guru, Kerabat, atau orang dekat kita lainnya. Makin banyak pengalaman kekecewaan tidak dikelola maka makin mudah kita kecewa dalam relasi-relasi kita di masa dewasa, terutama dengan figur otoritas seperti Pendeta, Pemerintah atau atasan di lembaga dimana kita bekerja.

Jika ada yang mencetuskan perasaan kecewa, bahkan karena hal-kecil saja membuat perasaan mudah meledak disertai kemarahan yang besar. Yang kena getahnya seringkali adalah pasangan dan anak kita. Mereka menjadi suka bingung dengan reaksi kekecewaan kita. Kita mendadak diam, merengut dan sensitif. Bahkan yang terburuk ialah, jika tidak dikelola baik bisa mengakibatkan gangguan psikosomatis, dan hubungan dengan Tuhan terganggu.

JALAN  MASUK

Tidak mudah mengelola rasa kecewa dimasa dewasa yang disebabkan kekecewaan di masa kanak-kanak. Kita perlu memproses dengan cara bertemu Konselor atau berbagi dengan sahabat dekat yang sehat secara emasi. Kitab efesus 4:27  mengajarkan kita mengelola emosi negatif seperti kemarahan dan kekecewaan secara harian, tidak membawa rasa itu saat tidur. Tapi melepaskannya.

Sebagian besar emosi negatif datang dari pikiran yang tidak dikelola baik. Jika pikiran kita positif dan baik pada seseorang yang kita kasihi atau figur otoritas, dan fokus pada kelebihannya maka emosi kita jauh lebih positif. Demikian sebaliknya, perasaan kita mudah kesedot dengan kekecewaan, kemarahan dsb

Fil 4:8 menegaskan perlunya pikiran dikelola ke arah yang positif dan suci. Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Kekecewaan yang dipendam, apalagi diumbar kepada orang lain sebagai jalan membalas dendam bagaikan rantai yang membelenggu hidup kita. Dengan menjaga pikiran dan fokus kita pada hal-hal yang baik, dan belajar melihat peristiwa dan pengalaman hidup kita dengan kacamata Tuhan, maka rantai kekecewaan akan dilepaskan. Kasih dan pengampunan adalah kunci melepaskan rantai kekecewaan yang sudah membelenggu anda bertahun-tahun.

MANFAAT KECEWA

Bersyukurlah untuk setiap orang yang membuat kita kecewa atau terluka, sebab mereka mengingatkan bahwa kita ini orang berdosa. Ya, pendosa yang selalu membutuhkan anugerah Allah dan pengampunanNya. Karena itu berkatilah mereka yang mengecewakan Anda dengan sekuat tenaga.

Mereka yang mengecewakan kita menjadi "berkat secara negatif". Dipuji berkat positif, sebaliknya dikecewakan merupakan "berkat negatif." Pengalaman kecewa membentuk kepribadian supaya kita tidak sombong. Jalan untuk kita mengoreksi dan memperbaiki diri.  Juga menguatkan otot-otot emosi lebih kuat. Dikecewakan bisa menjadi berkat yang tertunda. Salah satunya adalah kita tidak lagi mengandalkan manusia, dan jalan mengoreksi jika memang jika ada yang salah. Tidak ada kekecewaan  kita yang sia-sia. Semua bisa dipakaiNya. Jadi mulailah setiap hari dengan memberkati orang yang mengecewakan kita, karena mereka membuat kita sejengkal lebih dekat dengan salib.

PENUTUP

Kecewa itu emosi yang normal, asal direspons dengan baik. Harga diri yang sehat ikut mempengaruhi perasaan kita mudah kecewa atau tidak. Kelecewaan di masa lalu, jika tidak diselesaikan dengan baik dapat dengan mudah memicu emosi individu di masa kini. Kita akan rentan dan mudah kecewa hanya karena masalah kecil. 

Kecewa itu oke, selama bisa direspons dan dikelola dengan baik. Firman Tuhan mengajar kita cara mengelola emosi kecewa secara harian. Juga mengajak kita fokus kepada hal yang baik, pasitif dan kelebihan orang yang kita sayangi. Dengan demikian hati kita terpelihara oleh damai sejahtera dan cepat mengelola rasa kecewa menjadi rasa syukur dan doa.

Julianto Simanjuntak 

Keluarga Kreatif, LK3 





^ ke atas



Google or The Bible

Which is more relevant, Google, or the Bible? Living in these times has changed people’s lifestyles, the way they think of the world and their existence. If you want to find correct information about anything, “ask Google”. If you want to know about life, marriage and careers, “go to Google”. If you want to know about history, religion or spirituality—again, “ask Google”! 
People today might think the Bible has no clue about climate change or humanity’s updated lifestyles. The Bible is merely a book of stories, things about Jesus and outdated wisdom. Yet we should understand that the scriptures offer us truth from God, wisdom (khokmah) and the words of God (logos) that become alive (rhema), giving ultimate guidance to human life. 
These days, Google seems to be the smartest thing in the world; Google knows everything. There are many versions of the Bible available via Google, with many interpretations from scholars. Sometimes this creates ambiguity in comprehending scripture as the ‘Word’.  Google could make clear the unclear or unclear the clear
 
Dr. Hery Susanto., M.Th.
Anyhow, the Bible is still full of wisdom that never changes at different times but can be adapted to any situation. So, which is more relevant today: Google or the Bible?
 




^ ke atas



Refleksi Kepemimpinan

Refleksi Kepemimpinan

Sisi Gelap Kepemimpinan

17 Juni 2012, John Pellowe, CEO dari Canadian Council of Christian Charities

Ketika saya menulis artikel  berjudul Penanda awal hilangnya Integritas, saya pikir saya harus menulis tentang apa yang bisa kita pelajari dari pemimpin-pemimpin Kristen yang gagal. Tidak saja gagal atau jatuh dalam moral, tetapi apapun yang menyabotase kemampuan mereka untuk memimpin. Kira-kira setahun yang lalu saya menemukan seseorang yang tepat melakukan apa yang baru saya pikirkan! Gary Mcintosh dan Samuel Rima menulis sebuah buku untuk menujukkan kepada anda bagaimana  menghindari kegagalan yang dapat mebuat anda kehilangan pelayanan anda. Mereka menggunakan beberapa kempemimpinan Kristen terkenal yang gagal sebagai ilustrasinya dalam judul  Mengatasi Sisi Gelap Kepemimpinan: Bagaimana Menjadi Pemimpin yang Efektif dengan Menghadapi Potensi Kegagalan

Tesis mereka berkata bahwa keahlian atau kemampuan yang membuat atau memampukan anda menjadi pemimpin adalah keahlian yang sama yang membuat anda terjatuh. Mereka menyebut ini sebagai sisi gelap kepemimpinan. Intinya bukan berkata bahwa seorang pemimpin mempunyai sisi gelap, dan yang lain tidak, melainkan semua orang memiliki Sisi Gelap. Tetapi ketika anda berada di kepemimpinan terutama kepemimpinan senior sisi gelap anda berpotensi membuat badai kekacauan yang besar dari pada yang dialami orang lain, karena anda sebagai pemimpin memiliki kemampuan yang lebih yang berdampak pada orang lain. Itulah mengapa saya menulis bahwa seorang pemimpin harus dijunjung tinggi ke standart yang lebih tinggi daripada yang lain. Ketika anda meningkat lewat tingkatan kepemimpinan dan memeproleh kekuasaan yang lebih dan otoritas yang lebih untuk tujuan yang baik, demikian juga kelemahan sisi gelap anda juga memperoleh kekuatan yang lebih untuk berpotensi menghasilkan bahaya yang serius bagi anda dan orang lain.

Sebagai tambahan bahwa kuasa/kekuatan dapat menghasilkan kerusakkan yang besar, para pemimpin senior juga memiliki potensi untuk menggunakan kekuatan tersebut karena kekuatan itu secara relatif tidak dibatasi besarnya. Tanpa kehadiran kekuasaan yang lebih senior ( misal dewan pembina yang tidak ada di lingkungan pekerjaan), kunci utama yang mempenaruhi dengan mengayomi tidak ada di tempat menolong anda. Hal ini dikenali oleh politisi Perancis dan penyair Lamartine, yang menulis pada tahun 1848, “Kekuasaan Yang absolut merusak sifat alami yang terbaik” Pada tahun 1887 Lord Acton menulis ide yang berbunyi “ Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan Absolut korup secara absolut. Orang besar hampir selalu orang jahat.”

 Jika pemimpin senior tidak sadar dan tidak mampu mengatur sisi gelapnya, yang tentu saja bukan bagian pekerjaan Dewan Pembina untuk terus mengawasinya, maka anda siap-siap akan menuju kepada kegagalan, kejatuhan. Kemampuan untuk mempergunakan kekuasaan yang berlawanan dengan pengaruh (paksaan daripada merangkul) maka kemungkinan besar sisi gelap akan timbul dan bermanifestasi pada pemimpin senior, daripada kepada orang lain yang mungkin  menjadi subyek pengawasan untuk pengecekan dan keseimbangan dan jelas akan muncul.

Perlindungan melawan kegagalan dimulai dari menolak keuasaan absolut ( atau apapun yang mendekati itu) dan menyerahkannya kepada dewan yang independen dan aktif.

MENERIMA SISI GELAP ANDA

McIntosh dan  Rima menunjukkan bahwa Saul (paranoid), Salomo ( narsisisme), Musa (mengendalikan), Samson (kebergantungan), Daud ( sombong), dan Yunus ( amarah), semua dalah contoh biblikal dari orang-orang yang takluk ( setidaknya pernah) pada sisi gelap mereka. Memiliki sisi gelap, kata penulis, adalah normal, itu adalah bagian dari diri manusia. Tetapi, bagaimanapun juga sangatlah penting bagi seorang pemimpin untuk mengijinkan Tuhan untuk menebus sisi gelap mereka karena hal yang berhubungan dengan sisi gelap biasanya sama denganl kelebihan yang membuat orang itu menonjol di dalam kepemimpinan. Kelebihan ini memberikan seorang pemimpin , energi, ambisi, determinasi, keteguhan dan kreatifitas yang dapat membawa kepada kepemimpinan yang hebat dan sukses, selama aplikasi yang negatif terus menerus diperiksa.

Tuhan mengijinkan para pemimpin untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang menyesakkan dengan maksud untuk menolong mereka mengatasi sisi gelap mereka. Jika anda merefleksi, anda akan belajar banyak melaului pengalaman-pengalaman tersebut. Satu dari pengalaman terebut saya mendapatkan perspektif yang baru dan segar dalam peran saya dalam kepemimpinan. Saya sudah dialihkan oleh agenda/kepentingan beberapa orang, dan saya butuh untuk belajar kenyataan bahwa pekerjaan saya adalah untuk memimpin dengan cara Tuhan dan fokus untuk menyelesaikan misi. Saya membiarkan kebutuhan sisi gelap untuk validasi eksternal yang akibatnya membuat kepemimpinan saya keluar jalur, di saat saya berusaha agar disetujui. Tuhan menempatkan kita di dalam kepemimpinan untuk menyelesaikan tujuan-Nya, bukan untuk memuaskan kebutuhan kita. Saya harus memahami aspek ini tentang siapa  saya agar saya dapat menaklukkannya. Keinginan saya harus berganti dari memvalidasi diri saya sendiri ke proses validasi asumsi-asumi dan strategi-strategi untuk membimbing kita menyelesaikan misi organisasi.

McIntosh dan Rima mengutip dari seseroang yang berkata bahwa dia:

            ..teryakinkan bahwa (sisi gelap yang menempel pada diri kita) memiliki potensi untuk pelayanan dan kepemimpinan kita yang efektif. Tanpa hal-hal tersebut terintegrasi di dalam hidup kita, maka kepemimpinan kita akan menjadi tetap dangkal dan bersandar pada kekuatan tangan sendiri- sebuah kepemimpinan yang merupakan ciptaan kita sendiri, dibangun berdasarkan pada apa yang kita rasa merupakan kwalitas dan karunia kita yang terbaik yang kita berikan.

Sifat yang berhubungan dengan sisi gelap kita dapat ditebus dan ditambahkan keoada karunia dan ketrampilan kita yang sudah kita lakukan. Ketika kita mengatasi sisi gelap tersebut, kita kemudian mampu untuk memimpin dengan segala kepenuhan diri kita sebagaimana Tuhan inginkan.

MENGATASI SISI GELAP ANDA

McIntosh dan Rima berkat bahwa cara untuk mengatasi sisi gelap anda adalah dengan:

  • Mengakuinya- Sebagian besar orang tidak mengakui bahwa mereka tidak memilik sisi gelap sama sekali, sehingga mereka menyahlahkan orang lain untuk segala hal dan menganggap bahwa tindakan dan pemikiran mereka adalah murni dan dibenarkan. Penulis mengatakan bahwa mereka yang menyalahkan orang lain adalah mereka yang hidup dalam penyangkalan. Saya ingin sekali beranggapan bahwa saya sempurna seperti orang lain, tetapi saya mengakui dengan terbuka bahwa saya juga bercacat dan dalam proses penyempurnaan. Sebenarnya jika kita berada di dalam posisi tersebut saya sebenarnya dimerdekakan karena saya melepaskan tekanan dari pundak saya. Kesempurnaan adalah satu dari dua kunci indikator yang menyatakan bahwa anda sedang berada di dalam lereng yang licin siap untuk kejatuhan. Saya tidak tahu siapa yang menyatakan kalimat ini, teapi saya merasakan sukacita ketika dalam pengakuan “Saya belumlah menjadi pribadi yang saya inginkan, tetapi puji Tuhan bahwa saya bukanlah orang yang sama seperti dahulu.” Mengakui bahwa anda mempunyai sisi gelap bukan berarti anda berada di bawah kendalinya, tetapi artinya anda sadar bahwa ada komponen dalam diri anda yang anda perbuat, jika tidak kita periksa, maka akan berakibat pada motivasi yang egois yang akan membawa anda kepad akejatuhan.
  • Memeriksanya Lihatlah kejadian-kejadian yang berkesan di dalam kehidupan anda. Kejadian itu bisa saja penting dalam hidup anda, maka pikirkanlah bagaimana kejadian tersebut membentuk anda. Jika ada kejadian yang anda tidak ingat, penulis berkata, bahwa mungkin kejadian itu tidak mempengaruhi kehidupan anda. Kejadiannya tidak perlu kejadian yang traumatis. Kejadian itu bisa saja kejadian biasa atau bahkan positif. Yang penting adalah apakah kejadian tersebut berpengaruh kepada anda atau tidak. Saya beralih kepada perkataan seorang profesor yang saya ingat yang berkata “ Tiga generasi dari kerah putih ke generasi kerah putih..” Kejadian itu belum tentu gelap atau jahat dan mungkin saja tidak berarti dalam hidup anda, tetapi kejadian itu memiliki pengaruh yang besar terhadap diri saya. Banyak hal yang baik datang dari padanya ( ambisi untuk menghasilkan sesuatu dari upaya sendiri), saya juga sudah melihat sisi gelapnya ( terlalu fokus kepada diri sendiri daripada kepada tujuan utama). Lihat kejadian-kejadian ini dan tariklah benang merah bagaimana kejadian-kejadian ini bekerja di dalam kehidupan anda.
  • Melawan ekspektasi yang ada di bawah sisi gelap- salah satu yang tidak realistik atau dimotivasi secara egois adalah ekspektasi yang harus anda lawan. Ketika anda sudah menemukan kejadian yang membentuk diri anda, sekarang lihatlah ekspektasi apa yang muncul dari kejadian tersebut. Sebagai contoh dari generasi kerah putih ke kerah putih, yang merujuk kepada seorang pengusaha yang sukses bersama anak-anaknya dan cucu-cucunya. Genrasi pertama merintis, genrasi kedua menikmati, dan generasi ketiga membinasakannya. Dengan kata lain, saya tidak melihat diri saya sebagai seseorang “berkerah putih” Isitilah ini menimbulkan aspirasi kewirausahaan dalam diri saya terhadap ekspektasi untuk mencapai kesuksesan bisnis yang penting, yang bagaimanapun artinya saya mencoba untuk menghidupi kembali kehidupan kakek saya. Saya akhirnya menyadari bahwa kakek saya menjalani hidupnya jujur dengan priibadinya sendiri, maka begitu pula lah saya dalam menjani hidup saya harus jujur dengan diri saya sendiri. Setelah saya meresapi pemikiran tersebut maka saya meingenterpertasikan kembali generasi kerah putih ke kerah putih  artinya bahwa setiap generasi harus membentuk jalannya sendiri dan tidak bergantung pada jalan generasi sebelumnya. Daripada menjadi seseorang yang bukan diri saya, saya lebih baik mengikuti pimpinan Tuhan kemanapun Dia pimpin, sehingga saya dapat menjadi sepenuhnya sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan, dan saya tidak mau kembali lagi ketempat yang lama!
  • Hidup Disipilin Rohani (Doa, refleksi, persekutuan dll.) untuk pengetahuan diri yang semakin berkembang Anda perlu gambaran diri anada sebagai manusia yang akurat. Sebagai tambahan dari disiplin spritual anda perlu menggunakan profil data diri dan masukan dari luar yang akan memberikan kepada anda suatu pemikiran yang jelas untuk menilai diri anda sendiri tentang area-area dalam diri anda yang perlu anda perhatikan. Sejak tahun 1997 dan seterusnya saya menggunakan doa dan refleksi untuk memperoleh pemahaman yang yang baik tentang kelebihan, kelemahan, motivasi-motivasi, karunia dan potensi yang saya miliki. Hal itu mempersiapkan saya akan panggilan Tuhan yang saya terima untuk masuk ke seminari tinggi pada tanggal 25 Mei 2001, dan saya tidak melawan panggilan itu, yang merupakan perubahan 180 derajat bagi diri saya, karena saya tahu panggilan itu sesuai dengan siapa saya. Ketaatan saya pada tahun 2001 itu adalah alasan kenapa saya siap untuk menerima panggilan  Canadian Council of Christian Charities pada tahun 2003.
  • Memahami siapa diri anda dalam Kristus – nilai sejati anda bukanlah pada titel anda, performa, pencapaian dan kuasa, tetapi sebagai anak Allah. Kesampingkan ukuran dunia tentang kesukesan dan gunakanlah ukuran Tuhan. Kesuksesan bagi saya adalah setia kepada Tuhan dan tujuan yang Dia berikan kepada saya. Kuasa bukanlah tujuan. Pekerjaan saya saat ini tidak lah pernah menjadi tujuan saya. Tidak juga memberikan kepada saya nilai sama sekali, karena nilai yang saya sebagai seorang pribadi terletak pada penciptaan diri saya oleh Bapa saya, penebusan saya oleh Kristus, dan kesediaan saya untuk dipakai oleh Roh kudus.

Anda dapat menggunakan kemampuan anda untuk memimpin pelayanan Kristen dengan menyadari sisi gelap anda, menyerahkannya kenapa Tuhan untuk ditebus dan dikendalikan agar tidak menujukkan keburukannya dalam hidup saya.

Aku mendisiplin tubuhku dan menjadikannya budakku, sehingga, setelah aku memberitakan injil kepada orang lain, aku sendiri tidak ditolak

Paulus -1 Korintus 9:27

 

Daniel Trihandarkha, M.Th.



^ ke atas



Penyerahan Diri yang Lebih Besar

Penyerahan Diri yang lebih besar

=

Berkat yang Lebih Besar

Tak Bhana

 Apakah anda rindu melihat lebih banyak lagi bukti kehadiran Allah di hidup anda? Apakah anda rindu melihat lebih banyak mujizat, ketakjuban, dalam keluarga anda dan lingkungan komunitas di sekitar anda? Yang Pasti Saya sendiri Mau. Setelah saya membaca Alkitab belakangan ini perhatian saya tertuju pada Yosua 3:5

“ Yoshua berkata kepada bangsa itu, kuduskanlah dirimu, karena pada hari esok, Allah akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu.”

Perbuatan yang Ajaib!, itulah yang ingin ku lihat!

 

Yoshua dan suku Israel akhirnya tiba di perbatasan Israel, tanah perjanjian. Mereka sedang akan mengalami suatu perjalanan yang baru bersama Tuhan Allah mereka, dan sedang menjadi suatu bangsa yang Tuhan mau. Ada perubahan, ada era yang baru. Hal itu sangatlah menggembirakan, dan bukankah perubahan ini adalah perubahan yang  kita inginkan juga? Bahwa Tuhan melakukan hal yang baru di gereja kita, di lingkungan kita, dan pada bangsa kita dalam kehidupan pribadi kita?

Tetapi, sebelum mereka, dan kita sendiri melihat perbuatan yang ajaib ini ada hal yang harus kita lakukan. “Kuduskanlah dirimu” kalimat yang diperintahkan Allah kepada Yoshua. “Kuduskan” adalah sebuah kata lama yang tidak menarik untuk zaman ini, tetapi arti kata ini adalah “dikhususkan/dipisahkan”, “ditahirkan”, berserah kepada Tuhan. Berserah adalah kunci dan benang merah antara yang baru dan yang lama.

Saya sendiri melihat kata “berserah” adalah kata yang menggembirakan karena memberi suatu sinyal kepada saya bahwa Tuhan ingin melakukan lebih dalam hidup kita atau lewat hidup kita. Saya menyadari bahwa Tuhan sedang bekerja untuk hal yang sangat baik. Saya tidak melihat itu sebagai hal yang buruk, ketika cenderung melihat bahwa kita harus meninggalkan sesuatu untuk Tuhan. Tetapi sebagai hal yang positif karena Tuhan meminta  lebih maka Dia akan memberikan lebih.

Harley Varley dahulu berkata dalam sebuat percakapan dengan Dwight Moody, “ Dunia belum melihat apakah yang dapat dilakukan oleh seorang pribadi yang dikuduskan sepenuhnya untuk Tuhan”.  Kalimat pembicaraan itu begitu mendampaki D.L. Moody, sehingga ia ingin menjadi “Seorang Pribadi” itu. Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan  dan dia melihat bagaimana Tuhan memakainya dengan luar biasa sebagai seorang penginjil pada abad ke-19 berkotbah di hadapan lebih dari puluhan ribu orang, menyampaikan berita injil dan mendirikan Sekolah Alkitab dan memberi dampak pada generasinya dan generasi selanjutnya. Tetapi dia memulai dari bawah dan pendidikan yang terbatas. Teman sebayanya menolak dia dan  pada awalanya dia ditolak sebagai anggota pada gereja lokal karena dia adalah dikenal sebagai orang yang sangat tidak perduli tentang dasar doktrin dan pemahaman. Tetapi Tuhan melihat hatinya dan bagaimana dia berserah. Kita tidak harus menjadi super pintar, penuh karunia, karismatik atau memenuhi pendapat dunia untuk melihat hal yang ajaib, kita hanya perlu “Berserah”. Bukanlah apa yang dapat kita lakukan tetapi apa yang Tuhan dapat lakukan melalui kita. Sebagaimana 1 Korintus 1:27 nyatakan, Tuhan memilih yang bodoh dari dunia untuk mempermalukan yang berhikmat. Tuhan mencari, bejana yang rendah hati, tidak sempurna seperti anda dan saya untuk menunjukkan kemuliaan-Nya. Sebagaimana Mark Batternson tulis dalam bukunya  berjudul “All in”, dia berkata “ Anda hanya berjarak satu keputusan saja jauhnya dengan sebuah kehidupan  yang jauh berbeda.” Tentu saja kemungkinan keputusan ini adalah keputusan terberat di dalam hidup anda. Tetapi jika anda memiliki keberanian untuk berserah sepenuhnya kepada keAllahan dari Yesus Kristus, anda tidak akan tahu apa yang Tuhan akan lakukan.”

            Matius 6:33 menginstruksikan kita untuk “ Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya terlebih dahulu” tetapi kita sering mencari Kerajaan Allah sebagai prioritas ketiga, atau keempat dalam hidup kita. Kemudian kita bertanya-tanya kenapa kita tidak melihat hal-hal yang seharusnya kita lihat dalam perjalanan kita bersama Tuhan, kenapa doa kita tidak dijawab, atau kenapa hidup yang berkelimpahan tidak terjadi. Tuhan meminta segalanya dari kita tidak hanya setengah saja.

            Segalanya berarti segala waktu, segala energi , segala gairah, keuangan, talenta, hubungan semuanya berarti semuanya. Kedengaranya ini hal yang susah untuk dilakukan, dan murid-murid Yesus dahulu juga berpikir demikian. Bahkan kenyataanya mereka mempertanyakan  kepada Yesus tentang segala hal yang mereka telah tinggalkan. Yesus berkata di Markus 10:29-30.

“ Sesungguhnya Aku berkata kepadamu,” kata Yesus, “tidak ada seorangpun yang meninggalkan rumahnya, sanak saudaranya, atau ibunya atau ayahnya atau anaknya atau ladangnya demi aku dan injil akan gagal menerima seratus kali lipat dari zaman ini: rumah, saudaranya,  saudarinya, ibunya, anak-anaknya dan ladanganya- termasuk juga penganiayaan- dan pada masa yang akan datang, hidup yang kekal.”

            Tuhan Yesus berjanji bahwa Dia akan memberikan  anda ratusan kali lipat untuk apapun yang kita telah korbankan atau tinggalkan dalam hidup ini dan kehidupan yang akan datang. Saya lebih suka menyebutnya sebagai “Upah yang tidak terbayangkan di dunia ini.”

            Sejujurnya saya lebih suka memilih hidup yang mudah, dan lebih kepadapikiran untuk menyerah, kalau mendengar kata-kata “pergilah dari zona nyaman” atau pengorbanan sama sekali tidak menarik bagi saya, tetapi saya juga ingin mengubah dunia dan melihat Tuhan melakukan keajaiban-Nya. Saya menyadari saya tidak akan melihat dunia diubahkan kalau saya terus nyaman saja. Tuhan adalah segalanya atau segalanya bukan Tuhan. Mengikuti Kristus adalah panggilan seutuhnya atau tidak sama sekali. Yesus berkata  di Lukas 9:23-24 “Siapapun yang menjadi muridku harus menyangkal dirinya dan memikul salib setiap hari dan mengikut aku. Karena barangsiapa ingin menyelamatkan nyawanya akan kehilangan, tetapi siapapun  yang kehilangan nyawanya demi aku akan menyelamatkannya.”

             Faktanya bahwa Yesus menyerahkan segalanya untuk memberikan keselamatan bagi kita. Dia meninggalkan keilahian-Nya. Dia meninggalkan reputasi-Nya, kenyamanan, kemuliaan-Nya dan pada akhirnya nyawa-Nya. Dia membayar harga yang termahal untuk kemerdekaan kita. C.T Studd, misionaris besar dan seorang pemimpin hebat berkata “Jika Yesus yang adalah Allah, dan Dia mati bagi saya, maka tidak ada pengorbanan yang kita korbankan kepada Dia yang berlebihan.”. Untuk memperoleh semua, maka saya harus menyerahkan semua.

             Anda mungkin telah mendengar cerita tentang bagaimana cara untuk menangkap monyet, tetapi tidak ada salahnya kita mendengarnya lagi. Jadi untuk menangkap seekor monye kita taruh makanan dalam toples dengan terbuka celah sedikit. Monyet mungkin berpikir akan mudah untuk mengambil makanan di dalam toples itu, tetapi karena hanya ada celah sedikit di dalam toples, maka tangan monyet yang menggengam makanan itu tidak bisa keluar. Monyet yang rakus tidak bisa mengeluarkan tangannya kalau dia tidak melepas makanan di dalam toples itu. Untuk bebas dari toples itu dia harus melepaskan makanan itu dan tinggalkan di dalam toples. Prinsip yang sama berlaku bagi kita. Untuk memperoleh semua yang Kristus tawarkan, untuk memperoleh kasih dan kemerdekaan kita kadang harus melepaskan sesuatu yang menghalangi kita untuk maju. Hal apakah yang harus anda tinggalkan? Apakah artinya meninggalkan kepahitan yang anda miliki terhadap seseorang? Atau meninggalkan kebiasaan untuk menjadi “Yang paling benar”? Atau meninggalkan perfesionisme dan kecenderungan untuk kecanduan kerja? Atau meninggalkan egoisme dan menunda-nunda pekerjaan? Atau meninggalkan hobi olahraga atau hubungan yang menghalangi anda berbakti di gereja? Jangan pusatkan perhatian anda kepada apa yang harus ditinggalkan, tetapi fokuslah akan apa yang harus anda dapatkan.

            Para atlet olahraga profesional memahami apa arti pengorbanan daripada orang Kristen kebanyakan. Mereka memiliki visi atas apa yang akan mereka lakukan untuk menang, yaitu medali emas, kemasyuran, dan mungkin kekayaan dan mereka akan berkorban banyak untuk hal-hal tersebut. Mereka akan meninggalkan makanan cepat saji, meninggalkan kenikmatan, waktu dan berkomitmen segalanya untuk mendapatkan mahkota yang nantinya akan pudar. Mereka akan menunda berpuas diri, dengan harapan mereka akan mendapatkan yang lebih lagi. Bukankah kita sebagai orang Kristen memiliki gairah yang lebih besar lagi dari para atlet ini? Bukankah kita memiliki visi dari Kerajaan Allah yang layak untuk diperjuangkan dengan nyawa sekalipun?

            Lebih dari seratus tahun yang lalu terdapatlah sebuah kelompok  yang dikenal sebagai Misi “One Way”. Mereka disebut “One Way” atau satu jalan karena mereka tidak akan membeli tiket PP atau membawa koper waktu mereka meninggalkan rumah mereka, tetapi mereka berkemas untuk masuk peti mati dan tidak kembali. Mereka tahu rumah akan ditinggalkan selamanya, ada yang meninggal karena sakit hanya dalam beberapa minggu setelah sampai di tempat di negara asing, sebagian lagi mati sebagai martir, sebagian lagi hidup di desa terpencil seumur hidup mereka. Kenapa? Apa yang menyebabkan mereka ingin  berkorban sedemikian rupa? Saya percaya karena mereka memiliki perspektif kekal. Mereka pergi untuk mengabarkan kabar baik kepada orang-orang yang tidak pernah mendengar kabar baik tersebut. Mereka pergi karena orang-orang adalah berharga di mata Allah dan bernilai kekal. Mereka pergi karena mereka seperti Tuhan Yesus melihat sukacita ketika orang-orang tersebut menyembah Tuhan dengan penuh pengharapan dan kasih selama-lamanya. Mereka didorong oleh sebuah kasih dan gairah untuk Kristus.

            Sebagaimana ekstrem orang-orang tersebut, saya percaya panggilan untuk memberikan semua untuk Tuhan Yesus tetap sama hingga sekarang. Kita harus hidup dengan cara yang berbeda dengan dunia ini. Dunia berkata, berikan kepadaku! Beri aku kenikmatan!, kekuasaan, ketenaran, namun injil berkata bahwa uang, facebook, kekuasaan dan popularitas akan berlalu. Mari kita melihat  lebih dari apa yang kita sibukk lakukan hari-hari ini, dan menyimpan dalam hati firman Tuhan Yesus, untuk memikul salib-Nya setiap hari dan untuk hidup sepenuhnya untuk Dia. Sepertinya tindakan ini di luar kehidupan kita, tetapi sebenarnya kita diciptakan untuk melakukan hal seperti ini. Kita hanya memiliki satu kesempatan dalam hidup untuk membuatnya berarti bagi Tuhan.

            Kembali mengutip C.T. Studd, “hidup hanya sekali, cahaya mentari akan berlalu, hanya yang kita lakukan untuk Kristus yang akan tinggal tetap.”

            Elisa adalah contoh sempurna dari kehidupan di atas. Dalam 1 Raja-raja 19:21 kita membaca bagaimana Elia memanggil dia untuk mengikut dia dan menjadi nabi Allah dalam masa training. Elisa tanpa keraguan menyembelih sapinya dan membakar hasil bajakannya  sebagai sebuah pengorbanan keoada Allah dan dia meninggalkan kehidupan lamanya dan mengikut Elia. Elisa menolak untuk nyaman dan tidak berarti, dia menolak untuk menolak untuk menyerah atas pengejaran akan panggilan Tuhan dan Elisa mendapat urapan porsi ganda. Dia menyerahkan semua untuk memperoleh yang lebih besar lagi.

            Apa yang Tuhan panggil terhadap diri anda sehingga kita dapat memperoleh kuasa-Nya dan hadirat-Nya? Terkadang mengejutkan apa yang Tuhan minta dari kita untuk dikorbankan. Banyak orang mendorong saya untuk mengambi masa sabatikal (libur jangka panjang), dan kenyataannya seorang nabi Allah datang dan menyampaikan kepada saya untuk melakukan sabatikal. Tapi saya menolak, saya berkata ini bukan siapa saya dan bukan hal yang biasa saya lakukan. Tetapi apa yang dia katakan tidak pergi dari kepala saya begitu saja. Akhirnya saya menyerah. Saya mengambil libur selama 6  minggu. Saya tidak pernah begini sebelumnya! Saya bertanya kepada Tuhan apa yang saya mesti lakukan selama masa sabat itu. Tuhan menjawab dengan mengundang saya untuk untuk semakin datang mendekat kepada-Nya dan mencari Dia lebih lagi. Ketika saya melakukan itu saya mulai melihat Tuhan dengan cara yang baru, dan lebih lagi menyerahkan diri kepada-Nya. Ketika saya lebih lagi membuka diri saya kepada Tuhan, Dia lebih lagi mengisi diri saya. Pengalaman ini saya percaya mempersiapkan saya untuk fase berikut yang akan datang dalam hidup saya.

            Ketika saya melihat ke belakang dalam hidup saya bersama Tuhan saya melihat bahwa hal ini adalah pola yang saya lakukan sejak pertama saya mengikut Yesus. Waktu kunci, adalah masa-masa yang mengubah hidup saya ketika saya menyerahkan hidup saya di hadapan altar Allah. Dalam masa-masa inilah membukakan hal-hal baru dalam Tuhan dalam hidup saya, entah apakah hal yang baru dalam pelayanan atau kasih yang lebih besar lagi dan kesadaran akan Tuhan.

             “Sikap menyerahkan diri kepada Tuhan menjadi pintu  untuk berkat Tuhan yang lebih besar” adalah untuk semua orang. Berjalan bahkan hingga terpincang-pincang dan melakukan sesuatu melebihi diri kita sendiri demi orang lain dan Tuhan menempatkan diri anda pada posisi di mana Tuhan akan melakukan perbuatan yang ajaib. Ingat ketika seorang anak laki-laki menyerahkan makan siangnya dan  dia melihat bagaimana Yesus memberi makan 5000 orang. Bayangkan ketakjuban dan keheranan yang terpancar dari anak ini. Meluangkan waktu untuk menelpon seseorang, atau kita menunda pekerjaan kita untuk menolong orang lain dapat juga menuju kepada sesuatu yang lebih besar bagi mereka dan diri anda. Beberapa saat yang lalu seorang teman sesama hamba Tuhan menghubungi saya untuk bertemu, yang artinya saya harus memutar jauh dari kota saya, yang artinya saya harus mengorbankan waktu saya karena saya sedang sangat sibuk. Akhirnya saya lakukan dengan keraguan, ketika saya berkendara menuju ke sana saya berdoa kepada Tuhan dan saya merasakan kehadiran-Nya. Apa yang saya putuskan untuk korbankan hari itu, saya rasakan bahwa Tuhan berkenan atas “pengorbanan” saya itu. Tiba-tiba saya mengerti bahwa pengorbanan itu memang pantas dilakukan. Saya berdoa tuk hamba Tuhan ini dan mensharingkan firman yang menguatkan  dan penuh pengharapan. Saya kemudian menyadari bahwa saya kehilangan karcis parkir saya, dan kalau hilang saya harus membayar $60 atau Rp 720.000,- tetapi ketika saya berbicara kepada tukang parkir tersebut dia membiarkan saya pergi, hal yang mustahil di negara ini itu adalah mujizat. Seandainya saya tidak datang saya mungkin tidak dapat menyaksikan keajaiban tersebut.

            Dalam hal-hal seperti itulah yang akan membawa semangat yang barru dan suka cita bagi kehidupan kekristenan kita, dan mengangkat dari yang membosankan ke pada yang penuh petualangan, tetapi jika kita tidak siap untuk mengorbankan semua kepada Tuhan maka kita tidak akan melihat mujizat-Nya yang ajaib.Terkadang kita hanya berjarak  satu langkah, satu keputusan  jauhnya dari kehidupan yang diubahkan dan  penuh dengan hala yang ajaib.

             Saya percaya seperti Yoshua dan bangsa Israel kita sedang berada di ujung jalan ketika Tuhan sedang melakukan mujizat bagi kita semua, dan lingkungan sekitar kita melihat kuasa-Nya tapi hal tersebut memerlukan laki-laki dan perempuan untuk menyerahkan semuanya di kaki-Nya dan berani untuk melangkah maju. Mereka adalah orang – orang yang dipenuhi oleh kasih dan gairah untuk Kristus, sepenuhnya dikuduskan  seperti C.T. Studd dan D.L. Moody. Sesungguhnya, untuk melihat mujizat yang lebih besar maka diperlukan penyerahan yang lebih besar pula.

            Tak Bhana

Tak adalah pendeta senioe dari Church Unlimited yang telah berkembang termasuk di dalamnya 6 kampus di Selandia Baru, Australia dan Tuvalu. Dia menulis dua buah buku dan pelayanannya Running with Fire  telah disebarkan dalam siaran-siaran berbagai jaringan.     

Daniel Trihandarkha, M.Th.



^ ke atas



TASTE AND VALUE

Taste is an expression of relative valuation; it is relative to other valuations of taste. Taste is also an expression of absolute personal valuation, without reference to a definitive standard for any specific taste. (Fichte)

Taste exhibits a paradox of relative and absolute valuation: taste is relative to other opinions of taste, yet taste is absolute as individual, regardless of other opinions. What significance does this paradox have for social valuations?

Sharing diverse tastes presumably creates affable sociality. Yet reducing valuations merely to taste, effectively orientates life to individual assertions that are only relative to other assertions. The degree to which our contemporaries now engage life and its valuations within this relative-absolute paradox of taste, suggests an inability to evaluate life by criteria other than relative valuations as an absolute right to individual taste.

Individual assertions may be unique but they are relative to others asserting likewise. By reducing valuations to personal taste, everyone presumably gains; yet there is little ethical traction within values forged from relative assertions of taste. An apparent solution is fostering commonly shared tastes; yet here, the tension between relative and absolute invariably shifts from taste to modes of compliance that determine, even mandate, specified values for all.

 

Dr Stephen Curkpatrick

Lecturer in Christian Theology; Academic Dean



^ ke atas



NEW STRENGTH KEKUATAN BARU

 

"But those who wait on the Lord shall renew their strength; they shall mount up with wings like eagles, they shall run and not be weary, they shall walk and not faint”.   ISAIAH 40:31

 

Biblically, waiting on the Lord is never passive; it is always active. Waiting requires us to cease our own pursuits and give God our complete attention. We may have to give up some of the activities we have allowed to inundate our lives. We may need to take an entire day to sit quietly before the Lord. If we ask Him, God will show us the resources He has provided to help with the work we have been attempting on our own. God may address feelings of guilt that have motivated us to do things that He has not asked us to do.

Berdasar Alkitab, menanti-nantikan Tuhan tidak pernah berarti tindakan pasif, tetapi selalu merupakan tindakan aktif. “Menanti” membutuhkan kesediaan kita untuk menepis semua usaha dan jerih lelah kita dan memberi ruang bagi Tuhan untuk mendapatkan perhatian penuh. Kita perlu menyerahkan segala aktivitas yang menyita hari-hari kita. Kta perlu mengambil waktu khusus untuk duduk tenang di hadapan Tuhan. Jika kita memohon pada-Nya, Tuhan akan menunjukkan kepada kita sumber-sumber daya yang sudah disediakannya untuk menolong kita dengan pekerjaan yang kita usahakan dengan kekuatan kita sendiri. Kadang Tuhan juga memunculkan perasaan bersalah atas suatu hal yang memotivasi kita melakukan hal-hal yang tidak Dia inginkan. Tuhan akan memberikan kekuatan baru bagi kita yang mau duduk diam di hadapan Tuhan.

Dr. Hery Susanto

Academic Dean of STTJKI



^ ke atas



KARUNIA DAN KARMA

 

“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Galatia 6:7

 

Dalam pandangan umum, hukum tabur tuai menjadi system retribusi yang dianggap adil oleh manusia. Jika seseorang berbuat jahat, atau melukai hati kita, maka yang menjadi ucapan kita adalah biar dia mendapat hukuman yang sepantasnya. Jika orang mencuri, dia akan dihukum dan mendapat pembalasan dari Tuhan di masa yang lain. Bahkan lebih ironis lagi di mana orang Kristen yang hidupnya berpusat pada hal-hal dunia dikatakan akan menuai akibatnya.

Hukum sebab akibat itu yang sering mewujud dalam istilah ‘karma’.  Istilah ini adopsi dari istilah Hindu tentang seseorang yang menabur akan menuai apa yang ditaburnya. Namun apakah memang secara eksplisit ayat Galatia 6:7 sedang mengatakan konsep yang sama dengan itu?

Iman Kristen menunjukkan sebuah kebenaran yang berbeda.  Hukum dosa adalah maut. Ini tegas. Tidak ada seorang manusiapun yang tidak berdosa di hadapan Tuhan sehingga pasti manusia ada di dalam hukuman kematian itu. Kehadiran Yesus sebagai Juruselamat mengubah segalanya. Ia menanggung hukuman kita sehingga kita yang berdosa tadi, dibebaskan dari hukuman yang seharusnya ditanggung oleh manusia. Iman Kristen bergantung pada kasih karunia Allah. Akibatnya, hukum karma tidak berlaku bagi orang yang berkenan di hati Bapa. Ia hidup dalam   kondisi sudah diselamatkan dan bertanggungjawab atas kasih karunia itu.

Seseorang menjadi percaya kepada Tuhan bukan karena takut oleh bayang-bayang hukuman, sebaliknya menjadi wujud dari ucapan syukurnya karena sudah memperoleh kemurahan Allah.(1 Yohanes 4:18). Kepercayaan itu diwujudkan dalam tindakan kasih kepada sesamanya bukan karena ketakutan tetapi karena Allah lebih dulu mengasihi dirinya. “Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.” 1 Yohanes 3:6.

 

Dr. Hery Susanto, M.Th.



^ ke atas



HAKIKAT KEBERSAMAAN DALAM KERAGAMAN

HAKIKAT KEBERSAMAAN DALAM KERAGAMAN

Tradisi budaya Jawa tentang Saparan semakin hari semakin menarik perhatian masyarakat karena semua orang di daerah Jawa Tengah khususnya mulai meliriknya sebagai sebuah mediasi yang dapat mempersatukan ke-bhineka-an yang ada dalam lingkungan hidup masyarakatnya.

Kalender Jawa dipakai sebagai pedoman pelaksanaan perayaan Saparan sepanjang bulan Sapar (salah satu nama bulan dalam kalender Jawa). Setiap desa, wilayah, atau kampong menentukan tanggalnya masing-masing sesuai kesepakatan. Perayaan dilakukan dengan acara kunjungan dari rumah ke rumah hanya untuk menjalin silaturahmi dan makan-makan. Mereka percaya bahwa semakin banyak tamu dating akan membawa berkah semakin melimpah. Kepercayaan ini tidak lagi bernuansa magis tetapi lebih bersifat sosial. Semakin banyak tamu datang berarti semakin banyak saudara dan kerabat yang menjadi tanda kelimpahan berkat.

Tradisi Saparan juga dilengkapi dengan berbagai atraksi dan hiburan. Ada yang mengadakan kirab budaya, petunjukan wayang kulit, reyog, pagelaran music tradisional dan masih banyak lagi.

Secara spiritual, orang Jawa Tengah ini mempercayai bulan Sapar sebagai bulan ucapan syukur dan kegembiraan, sehingga semua turut menyambutnya dengan antusias. Ciri sosialitas menjadikan ungkapan kebahagiaan di mana mereka rela harus mengeluarkan biaya banyak untuk mendapatkan banyak saudara, teman dan sahabat-sahabat baru.

Sebagai orang Kristen, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita tidak ekslusif tetapi tetap turut menjaga toleransi dan kebersamaan di tengah keberagaman etnis dan religi. Kasih Kristus bersifat merangkul dan membawa kesatuan bukan perpecahan. Kasih Kristus justru hadir di tengah manusia-manusia yang belum mengenal Sang Juru selamat. Kesempatan terbuka untuk saling berbagi dalam suasana yang indah dan penuh dengan berbagai makanan yang memuaskan nafsu makan kita, namun juga persaudaraan yang sarat dengan makna.

DR. Hery Susanto, M.Th.

Wakil Ketua I BIdang Akademik STTJKI



^ ke atas



Between Subjective and Objective

 

Our concept of something determines what it is in its evaluation and use. This is assumed to be very postmodern—each person having a view of something, which might be very different, without an adjudicating point of reference to determine which view or if any view of something is right.

Over two centuries ago, Immanuel Kant concluded that we do not know anything in itself, for in determining what something is, subjectivity erases assumed objectivity. This observation threatened to scuttle any grip on tangible reality, for whose perspective would determine what anything is?

A subsequent philosopher revised Kant. For Hegel, subjective and objective are mutually mediated and modified: through its concepts, subjectivity shapes what we encounter, while things both confirm and resist our determinations. Reality is conceptual and tangible within a dialectical to and fro relation that enlarges perspective.

What is real is perceived differently through relationships and within different regions of human experience navigating particular challenges of life. The same phenomena in one culture can be engaged differently in another. We encounter plural objectivities within life. Instead of whittling down anything to being essentially unknown in itself, there is more to encounter within familiar things that initially, are made strange by other perspectives.

 

Dr Stephen Curkpatrick

Lecturer in Christian Theology; Academic Dean

44-60 Jacksons Road, Mulgrave VIC 3170, Australia
P: (+61) 3 9790 1000

ABN 42 004 238 662
CRICOS 01037A



^ ke atas



Relative valuations

Relative valuations

To reject the possibility of relative valuation is to reject the possibility of relationality. Any relationship implies valuations that are relative to another’s valuations.

Recognition of relative valuation implies foregoing absolute determinations of particular values; any relationship implies a potential contradiction of someone’s valuations, making them relative to another’s valuations. Relative valuation is seeing one particular value by relation to another; this is the familiar and useful practice of comparison.

Without a relativity of valuations within relationality, self-referential valuations will occur instead. This could be referred to by descriptions such as arrogance, illusion or stubbornness. But can relative valuations be sustained, even if these allay self-referential valuations? Sustained relationality represents continual challenges, so change and adaptation, yet toward what horizon of valuation in particular?

Relative valuations might only affirm a particularity that is independent of presumably restrictive relational responsibilities. This contemporary tendency necessitates relationality within which, human particularity is affirmed while also surpassed—neither relative as independent nor sacrosanct as tribal, another contemporary tendency.

Within Christian faith, the particularity of each is affirmed through variegated relationships, which are also surpassed as relative finally to christological reality—after there is neither Jew nor Greek, slave nor free, male nor femalebut all are one in Christ.

 

Dr Stephen Curkpatrick

Lecturer in Christian Theology; Academic Dean

44-60 Jacksons Road, Mulgrave VIC 3170, Australia
P: (+61) 3 9790 1000

ABN 42 004 238 662
CRICOS 01037A



^ ke atas



Kebahagiaan yang Mulia

Tidak ada kepuasan yang sejati di dunia ini. Pernikahan, keluarga, uang, ketenaran, kebenaran, perjalanan, olahraga, bahkan prestasi akademis; semua itu tidak akan dapat memberi kebahagiaan yang sejati kepada kita. Kepuasan yang didapat dari segala jerih payah kita akan segera musnah dan hanya tinggal kenangan. Itu pun bila kita masih bisa mengingatnya.

Tentu ada berbagai peristiwa yang membahagiakan di sepanjang perjalanan hidup kita, juga saat-saat tak terduga yang membawa sukacita luar biasa. Namun masa-masa itu segera akan berlalu dan kita tak mungkin dapat mengulanginya lagi, apalagi merasakan kembali kepuasan yang sama.

Lalu mengapa kita terus-menerus mencari sesuatu yang dapat memberi kepuasan? Jawabannya tidaklah sulit, yakni karena kita membutuhkannya. Sebenarnya, entah disadari atau tidak, jiwa kita merindukan Allah. Ya, keinginan, aspirasi, dan kerinduan kita yang paling dalam tak lain adalah kerinduan kepada Allah. Kita dilahirkan untuk mendapatkan kasih-Nya karena tanpa kasih itu kita tak dapat hidup. Dialah kebahagiaan yang kita cari di sepanjang hidup ini. Segala sesuatu yang kita inginkan hanya dapat ditemukan di dalam Dia-bahkan mungkin lebih dari yang kita harapkan.

Haus

Nats : Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi (Mazmur 73:25)
Para pakar kesehatan menganjurkan kita untuk minum sedikitnya dua liter air setiap hari. Selain dapat mengurangi risiko serangan jantung, air juga menjadikan kulit kita sehat berkilau, dan membantu mengurangi berat badan. Bahkan kita harus minum lebih banyak air ketika berolahraga atau jika kita berada di suhu yang panas atau kering. Dan meskipun tidak haus, kita tetap harus minum air.

Kehausan kita akan Allah bahkan lebih bermanfaat lagi. Pada saat kita mengalami kekeringan rohani, kita akan rindu mendengar Dia melalui firman-Nya, dan kita akan mencari setetes pengetahuan akan Dia. Apabila kita melatih iman dengan cara baru, maka kita akan ingin menjadi dekat dengan-Nya dan menerima kekuatan-Nya. Kita akan menjadi semakin haus akan Allah apabila kita melihat dosa orang-orang yang ada di sekitar kita, atau ketika kita memperoleh kesadaran baru akan dosa kita sendiri dan memerlukan Dia.

Kehausan rohani adalah istilah yang dipakai di dalam Kitab Suci. Asaf haus akan jawaban dalam mazmur yang berisi pertanyaan. Ketika ia melihat kebahagiaan orang fasik, ia berseru kepada Allah untuk mengetahui alasannya (Mazmur 73:16). Ia mendapati Tuhan sebagai kekuatannya dan menyadari bahwa ia tidak mengingini apa pun selain Dia (ayat 25,26).

Apabila kita mengalami dahaga rohani, maka kita dapat mengikuti teladan Asaf dan mendekatkan diri kepada Allah (ayat 28). Dia akan memuaskan diri kita, dan membuat kita menjadi lebih haus akan Dia. Kita akan belajar untuk mengingini Dia lebih dari apa pun juga AMC

DAHAGA AKAN ALLAH HANYA DAPAT DIPUASKAN
OLEH KRISTUS SANG AIR KEHIDUPAN

 

Lapar

Nats : Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4)
Berhentilah sejenak! Tunggu sebentar! Sudahkah Anda membaca bacaan Kitab Suci untuk hari ini? Hanya delapan ayat pendek yang dapat Anda selesaikan dalam waktu 45 detik.

Tolong, jangan letakkan buku renungan ini dan mengomeli saya, “Saya sedang terburu-buru dan Anda malah menahan saya.” Saya perhatikan Anda tetap sarapan pagi meski sudah terlambat. Anda menyediakan waktu untuk memberi makan tubuh Anda, tetapi Anda membiarkan jiwa Anda kelaparan. Ambillah waktu 45 detik saja untuk membaca Mazmur 119:33-40. Tidak menjadi masalah apabila Anda tidak melanjutkan bacaan dalam renungan ini, asalkan Anda membaca bacaan Alkitabnya.

Artikel-artikel dalam Renungan Harian tidak dirancang untuk menggantikan Alkitab, tetapi dimaksudkan untuk mendorong Anda agar lebih gemar membaca Alkitab. Jika membaca Renungan Harian justru membuat Anda menolak Firman Allah, lebih baik buang saja buku ini ke dalam tong sampah!

Ayub berkata, “Dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya” (Ayub 23:12). Yesus mengajarkan, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4).

Benar, Anda telah menghadapi hari yang berat kemarin, dan Anda tak dapat mengubahnya lagi sekarang. Jika demikian halnya mengapa Anda harus terkejut bila mengalami hari yang buruk karena Anda tidak memulainya dengan Firman Allah? Jangan lakukan kesalahan yang sama hari ini. Ambillah waktu untuk membaca Firman Allah –MRD

JIKA ANDA MERASA TERLALU SIBUK UNTUK MEMBACA ALKITAB
ANDA AKAN BENAR-BENAR TIDAK DAPAT MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK ITU

 

Jalan Bahagia 

Nats : Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (Yohanes 7:37 Bila Anda haus akan sesuatu yang “lebih” dalam hidup ini, tanggapilah undangan Yesus untuk “datang kepada-Ku dan minum” (Yohanes 7:37). Datanglah kepada-Nya, minumlah anugerah dan pengampunan-Nya yang diberikan dengan cuma-Cuma, dan alamilah sukacita yang sejati-DHR

KEBAHAGIAAN BERGANTUNG PADA KEJADIAN YANG KITA ALAMI
SUKACITA BERGANTUNG PADAYESUS!



^ ke atas